| Sumber: Koran Sindo
Tanggal: 10 Nov 2007 |
||
| Oleh: AM Fatwa | ||
|
|
||
| Enam puluh dua tahun yang lalu, bangsa Indonesia telah membuktikan kesetiaan dan pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan dengan semangat dan tekad pro patria dan ”merdeka atau mati”oleh para putra-putra terbaik bangsa.
Mereka berjuang tanpa menghitung-hitung untung rugi dengan prinsip senasib sepenanggungan yang jauh dari mementingkan diri sendiri. Pengorbanan para pahlawan itu antara lain telah diabadikan dengan ditetapkannya Hari Pahlawan 10 November. Selama 62 tahun bangsa ini melangkah menapaki kehidupan yang merdeka, tentu bukan lagi sekadar berada di dekat pintu gerbang kemerdekaan,tetapi telah cukup melakukan perjalanan mencapai cita-cita dan tujuan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Apa yang dicapai sampai saat ini cukup bernilai, tapi masih jauh dari harapan dan tujuan seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945. Dalam mengarungi ”samudera kehidupan” bangsa itu banyak rintangan, hambatan,dan tantangan yang merupakan kenyataan. Ironisnya, pada saat ini banyak penumpang ”kapal besar bangsa” melakukan perbuatan negatif yang merusak atau menggerogoti kapal ini yang justru dapat membahayakan perjalanan bangsa.Tidak bisa disangkal lagi banyak korupsi dan kejahatan lain di negara ini, juga tidak bisa dibantah bahwa saat ini banyak orang termasuk elite politik yang hanya sibuk mengurus diri sendiri. Politik memang mencari dan mempertahankan kekuasaan. Masalahnya adalah bagaimana kekuasaan itu diraih, untuk apa dan untuk siapa kekuasaan itu digunakan? Banyak yang memperebutkan kekuasaan dengan cara yang tidak ”sehat” seperti dengan money politic, black campaign, dan character assasination. Praktik Machiavellian yang menghalalkan segala cara menghinggapi banyak orang. Alih-alih digunakan untuk kepentingan rakyat banyak setelah kekuasaan dicapai, tetapi yang lebih menonjol untuk kepentingan diri sendiri dan atau kelompoknya saja. Ketika rakyat masih banyak yang hidup sengsara, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, kelaparan menjadi problem besar bangsa. Ada sejumlah orang yang mempertontonkan kemewahan dan sudah tumpul perasaan dan kepedulian sosialnya. Orang-orang yang demikian itu merupakan ”pendompleng” untuk hidup bagi dirinya sendiri di atas ”kendaraan besar” yang telah dibangun para pejuang kemerdekaan dengan segala pengorbanannya. Menyongsong peringatan Hari Pahlawan, ada baiknya kita merenung apakah cara-cara yang kita tempuh sesuai dengan tujuan didirikannya Republik Indonesia, dan apakah cara-cara yang kita tempuh dapat diridhai Tuhan Yang Maha Esa. Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri, seberapa jauh kita melaksanakan amanat para pendiri bangsa seperti termaktub dalam Pembukaan UUD 1945,ataukah justru mengkhianati para pahlawan yang rela memberikan miliknya yang paling berharga. Memperingati Hari Pahlawan, perlu merevitalisasi semangat pengorbanan, antara lain semangat cinta tanah air, berjuang tanpa pamrih pribadi, rasa solidaritas sosial, dan senasib sepenanggungan. Semangat itu menjadi penting pada saat ini, tapi perlu diaktualisasi dengan tuntutan bangsa dan negara pada saat ini. Semangat dan kewajiban warga bangsa pada masa perang mempertahankan kemerdekaan sangat penting untuk diwarisi generasi penerus,tapi harus disesuaikan dengan tuntutan pada masanya. Jika semangat kepahlawanan pada masa itu adalah melawan penjajah, maka substansi semangat itu harus disublimasikan untuk melawan kemiskinan, keterbelakangan, pengangguran, kebodohan, dan lebih utama lagi untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme, serta ketidakadilan. Untuk itu diperlukan persatuan dan kesatuan, kerukunan, kebersamaan, dan pengorbanan, baik secara pribadi, kelompok, golongan maupun semua warga bangsa. Hanya dengan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan kuat, sementara persatuan dan kesatuan menuntut adanya kepedulian antar sesama dan keadilan, termasuk keadilan antara pusat dan daerah atau keseimbangan pembagian pendapatan pusat dan daerah. Namun, masih ada syarat lagi dan justru sangat menentukan keberhasilan untuk mewujudkan bangsa yang cerdas, makmur, sejahtera, dan berkeadilan. Syarat itu adalah adanya integritas moral, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keadilan, kepedulian, kebersamaan, dan visioner dari semua warga bangsa terutama yang mendapat amanah menjadi pemimpin dari semua tingkatan. Hanya dengan begitu,insya Allah bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, maju, mandiri, berdaulat, berkepribadian, bermartabat dan berwibawa. Tanpa adanya karakter dan moral yang kuat, bangsa ini akan terus menerus mengalami keterpurukan dan akan semakin tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain. Menghadapi masa depan yang penuh tantangan berat, generasi muda harus menyiapkan diri agar dapat merespons tantangan dan perubahan serta menangkap dan memanfaatkan peluang. Untuk itu diperlukan pembinaan karakter, moral,dan disiplin yang kuat,dan dibarengi dengan upaya menghindarkan diri dari berbagai pengaruh negatif seperti narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya.Masa depan bangsa terletak di tangan pemuda, dan pemuda sebagai agen perubahan diharapkan mampu membuat prestasi-prestasi seperti yang dilakukan para pemuda pejuang pada masa lalu.(*) |
