Pertemuan berlangsung pukul 09.00 Wita. Pastika menerima AM Fatwa di ruang gubernur. AM Fatwa datang sendiri dan Pastika juga menerima sendiri. Bahkan ketika pihak pemprov mau mengabadikan tamu pemprov itu dan mewartakannya lewat staf Humas malah tidak dikasi Pastika.
Alasannya ke bawahannya pertemuannya itu urusan pribadi. Kondisi ini membuat pihak yang mau memotret AM Fatwa dengan Pastika mundur secara teratur.
Jika merunut ke belakang, PAN adalah partai yang memastikan diri berkoalisi dengan Demokrat dan mengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon presiden dan PAN sendiri menyerahkan pendampingnya Hatta Radjasa. Pertemuan ini langsung memunculkan spekulasi kehadiran AM Fatwa merupakan utusan khusus untuk memenangkan SBY dalam pilpres nanti.
Karo Humas dan Protokol Pemprov Bali Putu Suardika membenarkan dirinya tidak ada dalam ruangan saat pertemuan gubernur dengan AM Fatwa karena ada urusan lain. ”Saya ada urusan lain, sehingga tidak menemani acara itu. Coba tanyakan ke Santi (Kasubag Pemberitaan),” saran Suardika.
Kemudian Radar Bali melanjutkan ke Santi. Dia mengakui jika memang pihak Humas tidak diizinkan memotret dan memberitakan pertemuan itu. ”Ya, karena memang urusan pribadi Pak Gubernur. Setahu saya memang tidak ada izin untuk memotret,” jawab Santi.
Selain itu, koran ini mencoba mengkonfirmasi kedatangan AM Fatwa ke Ketua DPW PAN Bali Raul Hakim. Namun sayang HP-nya tidak aktif. (art)
