Hidup di penjara untuk waktu lama, tentu bukan hal yang mudah; seperti pernah dirasakan Andi Mapetahang Fatwa. ”Trauma berat itu,” komentarnya, singkat namun dalam.
Ia adalah aktivis politik Islam di era Orde Lama dan Orde Baru. Ironisnya, kedua rezim itu sama-sama pernah menjebloskannya ke penjara. Terakhir, majelis hakim di era Soeharto memvonisnya dengan dakwaan primer karena dianggap sebagai konseptor ”lembaran putih” Peristiwa Tanjung Priok 1984.
Saat itu, A.M. Fatwa (69) tercatat sebagai Sekretaris Kelompok Kerja Petisi 50 – sebuah komunitas para oposan yang berseberangan dengan Soeharto. Salah satu ketuanya, Ali Sadikin, adalah orang dekat dan mantan atasan Fatwa ketika menjabat Kepala Sub Direktorat Pembinaan Masyarakat Direktorat Politik Pemda DKI (1970-1979).
Namun, tak seperti Ali Sadikin yang leluasa menghirup hawa segar hingga akhir hayatnya, Fatwa, pada 1985, harus meringkuk selama 18 tahun dalam penjara. Saat dibebaskan pada 1993 – yang diliput amat dramatis oleh sebuah televisi swasta dan diwawancarai langsung puterinya, Dian Islamiati, yang notabene wartawan stasiun TV tersebut – ia masih juga harus menjalani tahanan luar.
Barulah ketika B.J. Habibie menjadi presiden menggantikan Soeharto pada 1998, Fatwa mendapat amnesti dan bisa melanjutkan karir politiknya.
Sudah pasti ada banyak hal yang ia alami selama di penjara dan sesudahnya. Salah satunya, ia mengaku, tidak lagi hafal jalan-jalan protokol di ibukota. Suatu kali, sesudah belasan tahun tidak pernah mengendarai mobil, ia mencoba kembali menyetir, tapi buntutnya malah tersasar.
”Saya nyetir sendiri ke Rawamangun, dan hilang, tidak bisa pulang sampai tengah malam,” tuturnya. Akhirnya, ia menelepon ke rumah, meminta seseorang untuk menjemput.
Ia juga merasakan penolakan dari beberapa orang yang semula berteman dekat dengannya. Mereka bilang, ”Wah, kalau nanti dekat-dekat dengan Fatwa, bagaimana dengan pemerintah?”
Reaksi yang tak berlebihan sebetulnya, meski Fatwa, dalam kasusnya, bukanlah pesakitan kriminal yang layak dihindari – kendati selama di penjara, ia merasa diperlakukan tak berbeda dengan para penjahat lainnya. ”Saya dibuang, dipindah-pindah dari satu LP (Lembaga Pemasyarakatan) ke LP lain. Secara psikologis, itu sangat menyiksa,” ungkapnya.
Bahkan, kekerasan fisik sudah dialaminya sejak awal penangkapan. Pernah suatu malam, sekitar jam 23.00, ia ”diambil” dari tahanan, lalu digunduli, disiksa dengan popor senapan, dan dinjak-injak di lapangan CPM Guntur.
Berikutnya, pukul 03.00 dini hari, ia dijebloskan ke dalam sel yang amat sempit dan berbau kotoran manusia. Ia hanya bisa berdiri, dan terpaksa menunaikan shalat seadanya dengan bertayamum menempelkan tangan ke dinding.
Seluruhnya ia alami jauh sebelum proses pengadilan berjalan. ”Jadi, sebenarnya penyiksaan-penyiksaan fisik terhadap saya lebih banyak saat dilakukan penangkapan oleh militer,” tuturnya. Kalaupun sejauh itu ia bisa bertahan, tak lain, karena ia menyimpan keyakinan bahwa perjuangan yang sedang dilakukannya adalah benar.
Mendekam belasan tahun dalam penjara, Fatwa kemudian banyak mengisi waktu senggang dengan menulis. ”Bukan tulisan-tulisan mendalam, tapi hanya sebatas catatan-catatan saja,” ungkapnya.
Surat, pada akhirnya, menjadi alat berkomunikasi yang ia pilih untuk terus berhubungan dengan dunia luar. Lewat surat-surat itu, ia mencoba berkorespondensi dengan berbagai kalangan, entah tokoh politik maupun birokrat. Sejak Mensekneg Moerdiono, Menteri Kehakiman Ismail Saleh, hingga Sesdalobang Solihin GP.
Bahkan, mereka yang berseberangan secara politik dengannya pun tak luput ia kirimi surat. ”Kemana-mana saya surati, termasuk kepada (Presiden) Soeharto,” ujarnya. Di luar dugaan, Soeharto balik membalas, meskipun terbatas ucapan selamat atau kartu lebaran.
Di kemudian hari, surat-surat tersebut – yang jumlahnya mencapai 5000-an pucuk – disamping khotbah-khotbahnya di masa orde baru, ternyata cukup bermanfaat sebagai bahan dasar penulisan buku-bukunya yang akhirnya diterbitkan. Beberapa di antaranya Dari Cipinang ke Senayan: Catatan Gerakan Reformasi dan Aktifitas Legislatif hingga ST MPR 2002; Demi Sebuah Rejim, Demokrasi dan Keyakinan Beragama Diadili; Kampanye Partai Politik Di Kampus; dan lain-lain.
Kehidupan di penjara, belakangan, juga menempa kepercayaan dirinya. “Karena penjara politik itu sebenarnya tempat mendapatkan ilmu dan pelatihan,” ujarnya. Ia bahkan amat meyakini kebenaran ”ajaran” Jawaharlal Nehru – mantan Perdana Menteri India yang juga sempat meringkuk d penjara – bahwa penjara politik merupakan pendidikan tertinggi di dunia.
Di dalam penjara pun ia bergaul dengan berbagai macam orang, termasuk mereka yang pernah melakukan tindak kriminal. ”Saya bergaul lintas politik, lintas ideologi dan lintas kelakuan,” ujarnya sambil tertawa. Hal itu pula, menurutnya, yang menjadikan sikap moderatnya makin mengental.
Malah ia juga berhubungan dengan para tokoh PKI, yang secara pemikiran dan ideologi berseberangan dengannya. Menurutnya, para tokoh politik itu justru menunjukkan sikap politik yang mengedepankan etika.
”Saya menemukan nilai-nilai pada mereka, juga etika berpolitik. Sampai-sampai saya beranggapan, dalam soal etika berpolitik, mereka lebih politik daripada politisi-politisi instan yang sekarang tiba-tiba banyak bermunculan,” ujarnya.
Seluruh peristiwa itu, baginya kini, bak pondasi yang membekalinya melangkah ke masa depan. Kendati awalnya sempat ditolak, dengan caranya sendiri, akhirnya ia berhasil meyakinkan Amien Rais untuk bergabung dalam Partai Amanat Nasional (PAN). Partai itulah yang kemudian mengantarkannya masuk ke Gedung DPR RI, bahkan menjabat wakil ketua periode 1999-2004. Lepas itu, ia ditunjuk pula sebagai Wakil Ketua MPR RI untuk masa jabatan 2004-2009.
Nama A.M. Fatwa sebagai mantan pesakitan, sejak itu, memulih seiring sepak-terjang dan pemikiran-pemikiran segarnya yang kerap terlontar dari dalam Gedung DPR/MPR. Geraknya kian leluasa ketika 10 Januari tahun ini ia mendirikan The FATWA Center, sebuah lembaga pengkajian dan amal jariah politik independen yang bergerak di wilayah nasional dan internasional dengan membangun jaringan politisi-politisi muda yang beretika dan beramanah.
Namun, sejauh itu, kepedulian dan ”rasa senasib” terhadap sesama tahanan politik, tetap melekat dalam dirinya. Salah satunya pernah ia tunjukan ketika mengetahui Anwar Ibrahim dibebaskan dari penjara. Dengan inisiatif dan biaya sendiri, ia terbang ke Negeri Jiran, dan menyambangi politisi kampiun Malaysia itu. ”Cuma saya sendiri pejabat dari negara lain yang hadir langsung ke sana,” ujarnya. (sep/dsp)
DATA DIRI
- Nama: A.M. Fatwa
- Tempat/Tgl Lahir: Bone, Sulawesi Selatan/12 Februari 1939
- Istri: Nunung Nurdjanah
- Anak:
1. M.Averus
2. Dian ISlamiati
3. Ikrar Fatahillah
4. Diah Sakinah
5. Rijalulhaq
- Pendidikan:
1. Sarjana Muda (BA), IAIN Jakarta, 1963.
2. Sarjana Muda (BA) Publisistik, Universitas Ibnu Khaldun, Jakarta, 1964.
3. S1 Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan Universitas 17 Agustus (Untag), Surabaya/Jakarta 1970.
4. Kursus Staf dan Kepemimpinan Pegawai Pemda DKI Jakarta, 1975.
5. Latihan Militer di Sekolah Dasar Perwira Komando (Sedaspako) KKO-AL (Marinir), Surabaya, 1966.
6. Beberapa kursus dan Pelatihan Manajemen di LPPM, Jakarta, 1979/1980.
Pekerjaan:
- Imam Tentara, Wakil Kepala Dinas Rohani Islam KKO-AL (Marinir) Komando Wilayah Timur di Surabaya, 1967-1970
- Kepala Sub Direktorat Pembinaan Masyarakat Direktorat Politik Pemda DKI Jakarta/Staf Khusus untuk masalah-masalah agama dan politik Gubernur Ali Sadikin, 1970-1979
- Staf Khusus Menteri Agama Tarmizi Taher, 1996-1998
- Wakil Ketua DPR RI Periode 1999-2004
- Wakil Ketua MPR RI Periode 2004-2009
