JK Kagumi Sosok AM. FATWA Yang Berani
Saat memberikan sambutan di acara penganugrahan gelar Doktor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Jakarta di kampus B UNJ, Jakarta Timur kepada AM Fatwa, wakil presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa dirinya merasa kagum kepada figur wakil ketua MPR RI ini. JK menilai kalau Fatwa memliki konsistensi politik dan bertanggung jawab serta berani.
JK juga turut mengungkapkan kalau kekagumannya itu juga didasarkan atas sikap tanggung jawab serta keberanian Fatwa dalam menerima konsekuensi politik dari sikap yang diambilnya meskipun resikonya harus menjalani masa penahanan di zaman orde baru yang lalu.
Maka dari itu, terkait pemberian gelar Honoris Causa kepada AM Fatwa, JK menilai itu sebagai sebuah langkah yang tepat dan layak. “ Saya nilai memang sudah sepantasnya bila AM Fatwa mendapatkan gelar Honoris Causa dalam bidang pendidikan luar sekolah “ ujar JK.
Kemudian lebih jauh lagi, JK menyatakan kalau AM Fatwa dianggapnya telah sangat berjasa didalam memberikan pendidikan politik bagi bangsa ini. Disamping itu, tambah JK, lewat tulisan – tulisan akademis yang pernah dibuat Fatwa, mampu memberikan contoh dari sikap maupun tindakannya dalam berpolitik.
Menutup sambutannya, wakil presiden Jusuf Kalla mengharapkan kalau pengalaman dari AM Fatwa dapat dijadikan suri tauladan dalam hal konsistensi dan keyakinan. “ Tidak banyak orang seperti AM Fatwa yang berani menghadapi resiko meskipun harus dihukum penjara selama 18 tahun “ pungkasnya. (Syachrul)
___________________________________________________________
Kalla Kagum terhadap AM Fatwa
|
Wakil Presiden Jusuf Kalla kagum dengan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Andi Mappetahang Fatwa karena dinilai memiliki konsistensi politik.
Kalla mengungkapkan hal itu ketika memberi sambutan dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada AM Fatwa oleh Universitas Negeri Jakarta di Kampus B UNJ, Jakarta Timur, Selasa 16 Juni 2009.
Menurut Kalla, AM Fatwa merupakan figur yang penuh tanggung jawab dan berani menerima konsekuensi dari sikap politik yang diambil. Sikap seperti itu pernah membuat Fatwa menjadi tahahan di politik di jaman Orde Baru selama 18 tahun.
Itu sebabnya Kalla dinilai layak untuk mendapatkan gelar honoris causa di bidang Pendidikan Luar Sekolah.
Fatwa dinilai berjasa dalam memberikan pendidikan politik. Selain dari berbagai macam tulisan akademis yang telah dia tulis, Fatwa memberikan contoh dari sikap dan tindakannya dalam berpolitik.
Fatwa juga dianggap bersikap kritis sekaligus memberikan teladan dalam bersikap menghadapi lawan politiknya.
“Politik yang diterapkan patut dipelajari, walau beda dengan pendidikan politik di kampus,” kata Kalla.
Kalla berharap pengalaman dari AM Fatwa dapat menjadi contoh konsistensi dan keyakinan. “Tidak banyak sosok seperti Fatwa yang berani walau dihukum 18 tahun penjara,” katanya.
Selain Kalla, acara penganugerahan terhadap AM Fatwa ini juga dihadiri Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan mantan Ketua MK, Jimly Asshidiqie.
• VIVAnews
======================================================
HNW: AM Fatwa contoh Teladan Politik
INILAH.COM, Jakarta – Gelar doktor kehormatan (HC) yang diterima salah satu pendiri PAN AM Fatwa, dianggap Ketua MPR Hidayat Nur Wahid sebagai imbalan yang pantas. Konsistensi dan pengabdiannya pada dunia politik merupakan tauladan.
“AM Fatwa adalah tokoh yang saya hormati. Beliau adalah senior saya, dan sekarang bersama saya di MPR,” ujar Ketua MPR Hidayat Nurwahid usai acara penganugerahan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dalam Bidang Pendidikan Luar Sekolah, di UNJ, Jakarta, Selasa (16/6).
Hidayat mengatakan pendidikan sosial politik seperti yang diberikan Wakil Ketua MPR itu sangat bermanfaat bagi rakyat. “Saya harap pendidikan politiknya, bisa menjadi pembelajaran, pendidikan politik bagi bangsa Indonesia,” kata mantan Presiden PKS ini.
AM Fatwa, menurut Hidayat telah mempraktekkan apa yang yang disebut sebagai politik tidak hanya teori. Tapi juga praktek dan kesantunan. Sehingga, diharapkan dia, pilpres dapat menjadi ajang pendidikan politik yang kongkret.
“Jadi rakyat mesti tahu bahwa dengan demokrasi mereka bisa menghadirkan solusi untuk bangsa dan negara” imbuhnya.
Dalam pidato penganugerahannya AM Fatwa menjelaskan bahwa sekarang ini langka keteladanan politik. Politik, tutur dia, dijadikan sebagai ladang oportunis bagi elit dan menjadi kotor, karena orientasinya hanya kekuasaan semata.
“Rakyat menjadi alat tawar-menawar, karena tidak ada landasan moral dan etika para elit. Politik diharapkan bisa bermartabat dan bermoral.” terangnya
Selain itu, AM Fatwa juga menyatakan bahwa keteladanan diperlukan sebagai pembelajaran dari semua pihak. Sehingga tercipta atmosfer bernegara yang bermoral. Disinilah sikap kenegarawanan seseorang dipertaruhkan.
“Kenegarawanan bukan identitas yang berlandaskan jabatan tapi sikap dan perilaku yang bisa menjadi tauladan,” pungkasnya. [mvi/jib]
Sumber:
Pengirim: Ningsih Update: 17/06/2009 Oleh: Ningsih
____________________________________________________________
AM Fatwa – Sembuh Dengan Suntikan dan Ramuan China

Menjalani kehidupan pahit di dalam penjara sebagai tahanan politik bagi AM Fatwa, kini Wakil Ketua Majelis Permusyaratan Rakyat, membawa penderitaan ganda. Dia mendapat tambahan penderitaan lain, tertular penyakit hepatitis B di dalam penjara. Setelah menderita selama 14 tahun, dia dinyatakan terbebas dari penyakit itu setelah menjalani pengobatan di China.
Peristiwa berdarah Tanjung Priok tahun 1984 menyeret AM Fatwa ke meja hijau. Dalam persidangan dia mendapatkan hukuman selama beberapa tahun. Putera asli Bone, Sulawesi Selatan ini dimasukkan penjara Cipinang lantas dipindahkan ke penjara Sukamiskin,Bandung.
Disinilah awal petaka AM Fatwa tertular penyakit hepatitis yang mematikan itu. Sebagai narapidana, Fatwa bersama rekan-rekannya di penjara seringkali menjadi donor darah. “Donor darah itu sebagai bentuk sumbangan para narapidana,†kata AM Fatwa. Nah, disinilah bibit penyakit itu mulai bersemayam dalam dirinya. Alat suntik yang masuk ke dalam dirinya ternyata tidak steril.
“Satu alat suntik digunakan untuk beberapa orang. Mungkin para perawat menganggap kami manusia buangan. Tapi karena narapidana dikomando, ikut saja,†kata Fatwa mengenang peristiwa itu dengan nada getir.Pada masa itu, kata Fatwa, anggaran kesehatan dari pemerintah masih kecil. Maka tak mengherankan bila satu alat suntik bisa dipakai untuk beberapa orang demi penghematan tanpa memedulikan akibatnya.
Dua tahun setelah hidup di penjara, barulah Fatwa mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit hepatitis. Ceritanya, pemerintah melakukan kampanye tentang hepatitis. Bersama narapidana lain, Fatwa harus menjalani pemeriksaan. Dari pemeriksaan itulah, dia baru mengetahui bahwa dirinya positif tertular penyakit hepatitis B. “Mungkin saja saya terkena hepatitis B sejak tahun 1984, hanya saya tidak tahu,†ujar pelindung Perkumpulan Awet Sehat Indonesia.
Selama di penjara dia tak memperoleh pengobatan yang memadai. Keluar dari penjara pada tahun 1993, Fatwa mengaku kondisi fisiknya makin lemah.“Tahun 1993 badan saya terasa makin lemah, sulit tidur, sulit makan, rambut rontok,†ujar ayah dari empat putera ini.
Sepeninggal dari penjara, AM Fatwa mengaku getol melakukan upaya penyembuhan. Salah satu yang dia jalankan adalah lewat suntikan hepatitis (inferferou) dalam program uji klinik obat di laboratorium klinik Prodia. Hanya saja, setelah disuntik selama setengah tahun dia mengaku tak banyak mengalami perubahan.
Atas saran dosen dari Universitas Indonesia yang pernah tertolong dari penderitaan penyakit hepatitis B, AM Fatwa lalu bertolak ke Ghuang Zou, China, pada tahun 2000. Dana pengobatan yang amat mahal itu – Fatwa mengaku lupa berapa jumlah persisnya – diperoleh dari negara melalui Instruksi Kepresidenan pada pemerintahan Abdurrahman Wahid karena jabatannya sebagai Wakil Ketua DPR.
Setibanya di Ghuang Zou dia menjalani pemeriksaan awal. Fatwa mengaku terkejut karena mendapat penyakit tambahan, dalam tubuhnya terdapat penyakit hepatitis C. Proses pengobatan kemudian dilakoni oleh pria berusia 67 tahun yang terlihat masih segar ini. Di sana dia melakukan pengobatan dengan dua cara: disuntik inferferou yang dikombinasikan dengan meminum ramuan China. Belakangan suntikan yang diberikan saat pengobatan di China itu kini bisa diperoleh di Indonesia.
Pengobatan di Ghuang Zou ini benar-benar mujarab. Dokter menyatakan penyakit hepatitis C dalam tubuhnya sembuh, sementara hepatitis B menjadi carrier. “Stamina tubuh saya membaik dan tidak ada gangguan seperti sulit tidur, sulit makan, dan gampang lelah,†ujarnya.
Untuk menjaga agar tak terkena penyakit itu lagi, Fatwa mengaku hati-hati dalam menjaga kesehatan. “Hepatitis sulit dicegah sama sekali. Oleh karena itu jaga kesehatan agar meminimalisasi serangan penyakit. Saya tidak sembarangan melahap makanan,†ujarnya membuka rahasia. Untuk kebugaran tubuhnya pula, Fatwa mengaku melakukan olahraga ringan secara teratur. Berenang dan jogging merupakan aktivitas yang dilakoninya tiga kali dalam seminggu. Sembuh dari penyakit hepatitis B dan C ini baginya merupakan anugerah yang luar biasa. (Narda)
