December 7th, 2007, 02:52
JAKARTA, KCM - Wakil Ketua MPR AM Fatwa menilai parlemen dan partai politik masih mengidap ’penyakit politik’ yang mengakibatkan kedua lembaga itu masih masuk di dalam jajaran lembaga terkorup di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan berkaitan dengan hasil penelitian Transparency International Indonesia (TI-I) yang menunjukkan bahwa Parlemen dan Partai Politik menduduki peringkat kedua dan ketiga lembaga terkorup di Indonesia.
Namun demikian, hasil penelitian itu pun sekaligus merupakan risiko dari kedua lembaga yang lebih sering muncul dan diangkat, sehingga mendapat pengawasan langsung sebagai pejabat publik. “Tapi perlu diperhatikan juga, jauh lebih besar di bawah permukaan sana ada penyakit ekonomi yang lebih parah dari penyakit politik,” ujarnya saat dihubungi KCM, Jumat (7/12) pagi.
Lebih jauh Fatwa mengingatkan, kepada pers dan LSM agar turut mengangkat persoalan penyakit ekonomi yang ternyata lebih banyak merugikan negara secara ekonomi. Hal ini bukan bentuk pembelaan terhadap parlemen ataupun parpol. Ia bahkan mengakui parpol di Indonesia masih banyak yang mengesampingkan etika moral dan etika politik, karena tingginya pengaruh uang. “Contohnya rekrutmen kepemimpinan di daerah, kuat sekali pengaruh uangnya,” katanya.
Fatwa juga mengungkapkan, hasil penelitian ini hendaknya dijadikan pemicu dan pemacu agar parlemen dan parpol lebih dewasa lagi. Dan berharap, masyarakat dapat terus mengawasi karena saat ini masih dalam tahap pembenahan untuk menghilangkan penyakit politik yang bersemayam di dua lembaga tersebut.
Namun demikian, hasil penelitian itu pun sekaligus merupakan risiko dari kedua lembaga yang lebih sering muncul dan diangkat, sehingga mendapat pengawasan langsung sebagai pejabat publik. “Tapi perlu diperhatikan juga, jauh lebih besar di bawah permukaan sana ada penyakit ekonomi yang lebih parah dari penyakit politik,” ujarnya saat dihubungi KCM, Jumat (7/12) pagi.
Lebih jauh Fatwa mengingatkan, kepada pers dan LSM agar turut mengangkat persoalan penyakit ekonomi yang ternyata lebih banyak merugikan negara secara ekonomi. Hal ini bukan bentuk pembelaan terhadap parlemen ataupun parpol. Ia bahkan mengakui parpol di Indonesia masih banyak yang mengesampingkan etika moral dan etika politik, karena tingginya pengaruh uang. “Contohnya rekrutmen kepemimpinan di daerah, kuat sekali pengaruh uangnya,” katanya.
Fatwa juga mengungkapkan, hasil penelitian ini hendaknya dijadikan pemicu dan pemacu agar parlemen dan parpol lebih dewasa lagi. Dan berharap, masyarakat dapat terus mengawasi karena saat ini masih dalam tahap pembenahan untuk menghilangkan penyakit politik yang bersemayam di dua lembaga tersebut.
Sumber : KCM
