AM Fatwa Doktor: Konsisten dan Tanggung Jawab

Senin, 22 Juni 2009 10:33
amfatwa-fiqisabiliamfatwa-fiqisabili

Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Kepada AM Fatwa Pada Rapat Senat Terbuka di Universitas Negeri Jakarta

Oleh: Agus Basri

Inilah satu-satunya sambutan yang dimulai dengan berjabat tangan dan diakhiri juga dengan berjabat tangan kepada promovendus. Wakil Presiden RI Jusuf Kalla melakukannya tatkala diminta memberi kata sambutan pada penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa terhadap Andi Mappetahang Fatwa di Gedung Serbaguna atau GOR Kampus Timur Universitas Negeri Jakarta (UNJI) di Jalan Pemuda nomor 10, hari Selasa siang 16 Juni 2009.

Dalam kata sambutannya Wapres Jusuf Kalla menyampaikan ucapan selamat dan memuji-muji keteguhan hati A.M.Fatwa dalam berpolitik, yang sudah menempatkan politik secara konsisten di dalam kehidupannya. “Yang patut dipelajari dari A.M.Fatwa adalah politik yang konsisten dan penuh tanggung jawab,” katanya.

Sosok seperti A.M.Fatwa ini sudah sangat langka bahkan sudah tidak ada lagi.” Walaupun akibatnya harus masuk penjara selama 12 tahun. Kalau yang ada, “Sekarang ini digertak saja langsung berubah. Namun Pak A.M.Fatwa digertak apa pun dia tetap konsisten,’’ kata Jusuf Kalla.

Karena itu, seluruh pengalaman Fatwa, katanya menambahkan, dapat dijadikan pelajaran bagi siapa saja yang konsisten dan yakin untuk memperbaiki kondisi bangsa ini.

Tampak hadir selain Wakil Presiden M.Jusuf Kalla, Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI Moorjadi Soedibjo, Wakil Ketua DPD RI Irman Gusman, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah sejumlah, beberapa duta besar negara sahabat, anggota DPR dan DPD RI, para akademisi dan  beratus undangan, termasuk Sutiyoso dan juga Pardi serta 500an undangan.

Rektor UNJ Prof.Dr.Bedjo Suyanto selaku Ketua Senat Universitas dalam kata-katanya menyatakan A.M.Fatwa memang layak mendapatkan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa, setelah melihat begitu banyak prestasi di dunia pendidikan dan dakwah bahkan dalam karya-karya akademis.

Fatwa menanamkan pendidikan politik dengan memegang teguh etik dan moral. Dan itu dibuktikannya dengan memaafkan penguasa Orba Soeharto yang memenjarakannya, bahkan mendoakannya.

Kendatipun sebelumnya sempat dipenjarakan di masa Orde Lama dan juga Orde Baru akibat perbedaan haluan politik, namun Fatwa dengan berjiwa besar memaafkan semua yang telah mendzoliminya di masa lalu. Fatwa menjenguk dan mencium kening Soeharto di RS Pertamina, lalu melayat dan mengantarkannya ke kuburnya di Mangadeg, Solo

Makam Soeharto adalah sebuah kuburan eksklusif tak jauh dari kuburan para raja Mangkunegaran Solo – yang  jauh sebelumnya Fatwa pun ikut memprotes berdirinya makam tersebut. Yang menarik, Fatwa tidak saja memaafkan Soeharto yang disebutnya sebagai “orang besar”  tapi juga mendoakannya khusnul khotimah.

Secara akademis Prof.Dr.Hafid Abbas selaku opromotor menyebut paling tidak ada empat alasan yang melatari penganugerahan gelar doktor honoris causa kepada A.M.Fatwa. “Pak A.M.Fatwa adalah seorang pemikir, pekerja dan tokoh pendidikan. Yang membina secara langsung Taman Kanak-Kanak melalui Yayasan Pendidikan Fatahillah sejak tahun 1973.

Melalui yayasan ini pula Fatwa membina pengajian untuk pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan di Kramat Pulo Gundul, Jakarta Pusat. Sebuah perjuangan yang kemudian dilanjutnya istrinya, Nunung Nurjannah tatkala Fatwa divonis 18 tahun dan dipenjarakan. Dari sudut pendidikan, pusat kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat seperti itu sesungguhnya adalah laboratorium atau rumah sakit bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah.

Fatwa, bersama Gubernur DKI Ali Saidkin, juga merintis berdirinya Pondok Karya Pembangunan (PKP) di kawasan Cububur, sebuah yayasan yang kini telah menaungi pendidikan dari TK hingga perguruan tinggui dengan murid tak kurang dari 3.000 siswa,  merintis berdirinya Yayasan Ki Bahgus Hadikusumo yang berlokasi antara Bogor – Sukabumi, Jawa Barat, dan juga menjadi Dewan Pembina di Yayasan Asrama Pendidikan Islam (YAPI) Al-Azhar Rawamangun yang didirikan oleh tokoh-tokoh sekaliber Prawoto Mangkusasmito, Moh.Roem dan Jusuf Wibisono tahun 1952.

Ini mengingatkannya pada tokoh sekaliber Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil yang sebelumnya juga sempat dipenjarakan seperti halnya A.M.Fatwa, yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan Brasil, yang terkenal dengan pandangannya tentang pendidikan yang sepenuhnya dibangun di atas fondasi penyadaran yang disebutnya “Conscientization”.

“Maka perjuangan A.M.Fatwa pada ranah keilmuan PLS mengingatkan saya kemiripan perjuangan seorang Paulo Freire tahun 1960an. Paulo seperti halnya A.M.Fatwa, juga aktif membina pendidikan luar sekolah, melakukan pelatihan-pelatihan dan pemberdayaan masyarakat miskin…,” katanya,

Dalam perjalanan hidup, seorang A.M.Fatwa juga sarat dengan beragam nilai pendidikan yang perlu diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya. Sebagaimana dikemukakan Rektor, Fatwa dengan jiwa besar memaafkan mereka semua yang telah mendzoliminya di masa lalu.

‘’Sungguh suatu proses pendidikan yang tidak ternilai bagi sebuah proses pendidikan antar generasi, generasi masa depan.” Bukankah bangsa yan gbesar adalah bangsa tidak tidak terbelenggu oleh dendam masa lampaunya, tetapi mereka yang dapat memetik hikmah dari kelampauan itu dan memperspektifkannya ke alam kekinian dan keakanan sebagai satu pertautan linier bagi peradaban modern bangsanya.

Dan keteladanan A.M.Fatwa dengan kebesaran jiwanya bangkit dari puing-puing di masa lalunya, dengan terus memelihara konsistensi perjuangan politiknya sehingga meraih kursi Wakil Ketua DPR RI dan kini Wakil Ketua MPR RI, dan kemudian mendapat bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden SBY serta penghargaan Pejuang Anti Kezaliman dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, Januari 2009.

Alasan ketiga, Fatwa adalah tokoh yang tidak tersekat dengan identitas etnis, agama atau latar belakang politik. Ia diterima dengan baik oleh warga Batak dan mendapat gelar “Ginting” di Brastagi, lalu marga “Harahap” di Padang Sidempuan, Sumatra Utara, juga Piagam Adat dari Sai Batim Raja Adat Kesatuan Paksi Pak Skala Brak dengan gelar ‘Tumenggung Alip” di Lampung, dan juga Lencana Kehormatan Radyolaksono dari Sri Sunan Pakubuwono XII dari Solo dan pemberian nama “Hadinagoro” dan gelar Kanjeng Pangeran pada tahun 2003.

Begitupun skap toleransinya yang tinggi, yang melekat pada seorang Fatwa.Pun seorang Fatwa telah sampai pada tahap kesadaran, sehingga dapat bergerak melintasi ruang-ruang sempit  kehidupan yang disekat-sekat dengan identias suku, agama dan adat, dan bahkan melampaui waktu.

Terakhir adalah karya-karya ilmiah Fatwa baik dalam bentuk buku, artikel ilmiah dan populer yang terserak bahkan sejak tahun 70an, ‘’Secara keseluruhan saya nilai memenuhi nilai-nilai ilmiah yang bersifat universal,” kata Hafid Abbas pula. Yang juga menarik pandangannya tentang pendidikan agama. Selama ini masyarakat mempersepsikan masalah agama sebagai kegiatan sakral dan bersifat spiritual dan kultural.

Semestinya pendidikan agama, menurut A.M.Fatwa, harus terintegrasi bahkan perlu ditangani secara satu atasp (Depdiknas), sehingga pendidikan agama tidak akan termarjinalkan dalam proses penegakan moral bangsa. “Kesimpulannya, semua tulisan A.M.Fatwa yang begitu luas spektrumnya dalam ranah pendidikan luar sekolah memenuhi kriteria sebagai karya ilmiah dan ia pantas mendapat penghargaaan Dr.HC dalam bidang Pendidikan Luar Sekolah,” Hafid Abbas menegaskan.

ANDI MAPPETAHANG FATWA dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Pendidikan Politik Bernegara dengan Landasan Moral dan Etika”, sebuah pidato yang dilengkapi dengan “Dialog dan interaksi dengan tokoh yang memberi inspirasi”, juga “testimoni” plus foto-foto setebal 223 halaman, yang dibacakannya dengan penuh semangat sepanjang hampir satu jam.

Pada kesempatan penganugerahan gelar doktor honoris causa ini, A.M. Fatwa menyatakan terima kasih kepada segenap sivitas akademika UNJ, khususnya kepada Rektor Prof.Dr.Bedjo Suyanto dan Prof.Dr.Hafidz Abbas serta Prof.Dr.Ir.Dodi Nandika selaku promotor dan co-promotor. Juga terutama kepada para guru besar UNJ, terutama pula guru-guru sejatinya seperti Prof.Dr.Hamka (alm) dan M.Natsir (alm) sebagai inspirator yang tidak hanya bisa diteladani sikap dan perilakunya, tapi juga menjadi sumber pengetahuan yang semakin mengasahnya dalam menjalani kehidupan.

‘’Alhamdulillah. Kehadiran saya di mimbar ini merupakan simbol sekaligus muara dari catatan perjalanan hidup yang saya abdikan untuk bangsa dan negara. Apresiasi yang diberikan oleh UNJ ini merupakan penghargaan yang sangat membahagiakan karena tidaklah menjadi obsesi dalam cita-cita hidup saya sebelumnya,’’ katanya.
‘’Tak terbayang dalam benak saya bahwa suatu saat saya dianugerahi bermacam penghargaan atas amal bakti dan pengabdian serta aktivitas yang saya curahkan secara ikhlas untuk kepentingan masyarakat, termasuk anugerah doktor honoris causa dari UNJ ini,’’ katanya

Panjang perjalanan kehidupan Fatwa, tak lepas dari gemblengan yang dilakukan di PII, HMI dan ormas Muhammadiyah.  Plus para tokoh yang di belakangnya. Maka, Fatwa yang malang melintang hidup dari penjara ke penjara, menyampaikan terima kasih kepada para guru dan mentor seperti Kasman Singodimedjo, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harapan, dan juga kepada Letjen Ali Sadikin (alm) — yang terakhir berperan besar dalam mengajari Ilmu Disiplin Militer. Pun bahkan Fatwa belajar pula dari Soeharto yang memenjarakannya, bahkan memaafkannya dan mendoakan di liang lahatnya.

Fatwa berhasil membangun hubungan personal tanpa sekat aliran politik yang melingkari para tokoh. ‘’Hubungan personal tanpa sekat dendam dan benci inilah yang saya lakukan dengan harapan adanya transformasi kesadaran (karakter) yang lebih baik dalam menyelesaikan permasalah bangsa. Inilah salah satu bentuk pendidikan moral dan etika politik yang saya kembangkan dalam hidup saya sampai saat ini.

Pendidikan moral dan etika merupakan proses mendidik yang bertujuan agar manusia memiliki moral dan etika atau akhlak mulia, memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang berlangsung sepanjang hayat. Dilakukan secara formal maupun informal, di sekolah maupun di luar sekolah.

Hal ini dapat berwujud dalam bentuk teladan, sosialisasi, persuasi, supervisi dan memberikan motivasi dalam proses pembelajaran. Moral dan etika politik inilah yang seharusnya kita kembangkan di tengah menguatnya persaingan politik kekuasaan dan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang membutuhkan kebersamaan.”

Inilah pendidikan politik yang seharusnya dikembangkan dan diteladankan oleh para pemimpin sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa tokoh, seperti M.Natsir yang dengan tulus membantu pemerintahan Soeharto untuk mencairkan hubungan dengan Malaysia di awal Orde Baru. Juga Syafruddin Prawiranegara yang ikhlas menyerahkan pimpinan pemerintahan PDRI kepada Soekarno-Hatta demi kebersamaan dalam persatuan nasional. Sebuah suri tauladan, praktik politik yang kini telah jarang dan bahkan cenderung semakin langka di negeri ini.

Fatwa menyampaikan keprihatinannya melihat rangkaian sejarah kepemimpinan nasional yang diakhiri dengan sikap apriori dan antipati di antara mereka. Lebih aneh lagi, bahkan ada sementara pejabat negara yang masih aktif saling menyindir, saling mengejek hanya lantaran berlainan partai, hanya lantaran berkampanye pula.

Maka, menyitir pendapat Achmad Syafi’i Ma’arif, Fatwa mengemukakan, bahwa praktik politik tanpa dilandasi moral dan integritas pelakunya hanya akan melahirkan “serigala-serigala” yang akan saling memakan, dan tak akan menjadi sarana mewujudkan cita-cita kesejahteraan umum. Oleh karena itu, para politisi harus dapat menjadi contoh dan memberi pendidikan politik yang bermoral bagi warga negara.

Untuk itu, semestinya elit politik menyerahkan loyalitasnya kepada negara. Inilah sosok negarawan sejati yang digerakkan oleh wawasan kebangsaan. Maka diperlukan upaya penyadaran paradigmatik pada ranah kultural sebagai sebuah strategi menyemaikan moral dan etika politik bernegara.

Fatwa juga menekankan pentingnya politik bernegara yang dilandasi oleh kecerdasan berpolitik, moral dan etika politik. Maka pendidikan moral dan etika politik baik formal maupun informal sangat penting terutama bagi politisi, sebagai panduan (visi) tentang apa yang seharusnya dilakukan dan menggerakkannya dalam rangka pembebasan segala problem diskriminatif yang dialami masyarakat.  Upaya membangun moral dan etika politik bernegara harus digerakkan melalui dua arah sekaligus, yakni dari kalangan elit politik dan kehendak seluruh anak bangsa melalui pendidikan politik.

Di sini nampak pula perlunya pendidikan politik yang dilandasi moral dan etika yang merupakan upaya sadar untuk membuat politisi menjadi manusia yang utuh, bermartabat yang mampu mempertanggungjawabkan sikap dan perilakunya kepada masyarakat, bangsa dan negara, menjadi insan kamil.

Sebagai sebuah bangsa yang plural dan heterogen, yang berdasarkan Pancasila, semua upaya juga harus dilakukan dengan mengedepankan kebersamaan tanpa mengorbankan keragaman. Itulah sesungguhnya yang hendak ditumbuhkan dari nilai-nilai yang tercermin dalam Pancasila demi tercapainya kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Pancasila tak hanya menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan, tapi juga menjadi dasar sikap dan perilaku warganya sehingga bangunan negara bangsa berdiri kokoh dan terintegrasi.

Sebab itu tak berlebihan pula jika disebutkan bahwa dalam skripsi pembebasan sebagai nara pidana politik bahkan sudah sejak hampir satu dekade lalu dengan tegas Fatwa memberikan judul: “Saya Menerima Pancasila Justru Seorang Muslim”. Dan kini pada akhirnya dengan segudang prestasi lainnya akhirnya bermuara pada perolehan gelar Doktor (HC) A.M.Fatwa. (AB)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.